Menguatkan Hati Pasca Bencana, PB PGRI Hadir Membersamai Guru Terdampak Banjir dan Longsor di Sumatera Barat - PGRI Sumatera Barat

Menguatkan Hati Pasca Bencana, PB PGRI Hadir Membersamai Guru Terdampak Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

Share This


PGRISUMBARNews. Di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kembali menegaskan jati dirinya sebagai rumah besar para guru. Pengurus Besar (PB) PGRI hadir tidak sekadar sebagai organisasi profesi, tetapi sebagai saudara yang datang di saat duka, memeluk, menguatkan, dan memastikan para guru tidak berjalan sendiri menghadapi musibah. Bagi PB PGRI, membela dan melindungi guru adalah amanah moral dan organisatoris, dalam berbagai situasi, termasuk saat bencana merenggut rasa aman dan ketenangan batin, PB PGRI berdiri di garda depan memastikan hak, martabat, dan keselamatan guru tetap terjaga dari pihak-pihak yang berpotensi merugikan mereka. Komitmen ini diwujudkan secara nyata melalui penyaluran bantuan sembako dan uang tunai kepada anggota PGRI yang tertimpa musibah di berbagai daerah di Indonesia.

Secara khusus, PB PGRI telah menyalurkan bantuan kepada guru-guru terdampak bencana di tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Bantuan tersebut merupakan hasil dari iuran dan penggalangan dana solidaritas keluarga besar PGRI di seluruh Indonesia, yang menjadi sebuah cermin bahwa kepedulian guru tidak pernah mengenal jarak geografis. Turut hadir dalam kegiatan ini perwakilan Pemerintah Kabupaten Solok, PGRI Provinsi Sumatera Barat, serta Ketua PGRI kabupaten dan kota se-Sumatera Barat, unsur Kecamatan Junjung Sirih, serta seluruh peserta kegiatan.

Ketua PGRI Provinsi Sumatera Barat, Bapak Drs. Darmalis, M.Pd, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan dukungan psikososial dan trauma healing ini dilaksanakan pada hari Sabtu 8 Februari 2026 dipusatkan di SD Negeri 01 Muara Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, dengan melibatkan kurang lebih 100 orang guru dari lima kabupaten dan kota, yaitu Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Pemilihan Kabupaten Solok sebagai tuan rumah bukan tanpa pertimbangan. Lokasinya yang berada di titik tengah di antara daerah peserta dinilai strategis dan mudah dijangkau. Lebih dari itu, SD Negeri 01 Muara Pingai merupakan salah satu sekolah yang mengalami dampak cukup parah akibat banjir dan longsor, sehingga kehadiran kegiatan ini diharapkan menjadi simbol pemulihan, bahwa dari tempat yang paling terdampak, harapan bisa kembali ditumbuhkan.

Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari penuh, dengan menghadirkan dua para ahli dari PB PGRI, Ibu Dra. Endang Yuliastuti, M.Pd dan Ibu Arum Puri Suryandari, S.Si., M.Pd, hadir langsung memberikan pendampingan. Keduanya dikenal sebagai praktisi berpengalaman dalam penanganan korban bencana, khususnya dalam pendampingan psikologis pasca bencana atau trauma healing. Kegiatan ini juga diperkuat dengan keterlibatan dosen-dosen dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Sumatera Barat, sebagai bentuk sinergi akademik dan kemanusiaan.

Materi yang diberikan dirancang kontekstual dengan kondisi lapangan, antara lain dukungan psikososial dan trauma healing melalui Terapi Menulis Ekspresif (Expressive Writing Therapy), penyeimbangan emosi, pemahaman kondisi siswa pasca bencana, pengelolaan pembelajaran dengan sarana minimal, kegiatan sosial-emosional sederhana (SEL), hingga penguatan peran guru sebagai pemimpin yang menenangkan di ruang kelas dan komunitasnya.

Ketua Umum PB PGRI, Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh bantuan yang disalurkan tidak lepas dari semangat gotong royong keluarga besar PGRI. Melalui iuran dan penggalangan dana yang dilakukan secara nasional, PB PGRI telah menyalurkan bantuan sembako dan uang tunai kepada guru-guru terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Disampaikan pula bahwa penyaluran bantuan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan terakhir, dimulai sejak Desember, berlanjut pada Januari dan Februari 2026, dan hingga kini masih terus berjalan. Memasuki bulan ketiga pasca bencana, PB PGRI tidak berhenti pada bantuan material semata. PB PGRI membentuk beberapa tim yang turun langsung ke daerah terdampak untuk memberikan dukungan psikososial dan trauma healing dengan tema “Pulih Bangkit Bersama: Menguatkan Hati, Menumbuhkan Harapan.”

Khusus di Provinsi Sumatera Barat, salah satu tim PB PGRI yang bertugas di lapangan adalah Ibu Dra. Endang Yuliastuti, M.Pd dan Ibu Arum Puri Suryandari, S.Si., M.Pd, yang saat ini melaksanakan kegiatan pendampingan di SD Negeri 01 Muara Pingai. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa PB PGRI memilih untuk hadir langsung, merasakan denyut kehidupan para guru di daerah terdampak, dan mendengar kisah mereka tanpa sekat. “Saat bencana meruntuhkan dinding sekolah, solidaritas PGRI akan menegakkannya kembali. PB PGRI hadir sebagai pelita di tengah kegelapan musibah, memastikan tak ada guru yang berjuang sendirian,” ungkap Prof. Unifah. Salah satu kisah pilu yang kami dengar adalah di tengah deru longsor dan arus banjir yang datang tanpa ampun, seorang guru menghadapi ujian paling sunyi dan paling berat dalam hidupnya: orang tua kandungnya terbaring kaku di rumah saat alam seakan runtuh. Dengan air yang terus naik dan tanah yang bergerak, ia menahan duka, menguatkan langkah, lalu menggendong jenazah orang yang telah melahirkannya menuju tempat yang tidak terendam banjir, demi menjaga martabat terakhir orangtua di tengah kekacauan. Pada saat segalanya terasa hilang, guru itu memilih tetap berdiri membuktikan bahwa keteguhan hati bisa lahir bahkan di tengah kehilangan terdalam. Dari ribuan kisah yang saat ini dapat kita dengan dari ribuan guru yang terdampak bencan, Ketua Umum PB PGRI Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd kembali menegaskan bahwa PB PGRI akan selalu mengayomi guru-guru hingga ke pelosok negeri, melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan organisasi, baik internal PGRI maupun instansi pemerintah dan nonpemerintah, demi memaksimalkan upaya pemulihan pasca bencana.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Bupati Kabupaten Solok, yang dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, justru tumbuh semangat kebersamaan yang kuat di kalangan para guru. Kehadiran PB PGRI, PGRI Provinsi Sumatera Barat, dan Universitas PGRI Sumatera Barat dinilai sebagai dukungan moral yang sangat berarti, dimana dukungan ini tidak hanya membantu guru pulih secara psikologis, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa negara dan organisasi profesi hadir bersama mereka.  Selanjutnya dengan adanya kegiatan dukungan psikososial dan trauma healing yang diberikan kepada guru-guru ini, akan dapat menjadi praktik baik serta dapat diterapkan kepada para pesertadidik dan guru-guru lainnya di tempat para ibu dan bapak guru mengabdi. 

Melalui kegiatan ini, PB PGRI kembali menegaskan bahwa keberpihakan kepada guru bukanlah slogan, melainkan tindakan nyata. Di tengah duka akibat bencana, PGRI memilih hadir, menguatkan, dan menyalakan kembali harapan—karena dari guru yang pulih, masa depan akan kembali ditata.

 




















Pages